FUNGSI GANDA REFORESTASI : Cegah Bencana Sekaligus Topang Kemandirian Energi Terbarukan

0
20

Energi Terbarukan Itu Tumbuh di Hutan, Negara Tinggal Pilih : Reforestasi dan Jadi Raja Eksporter Bahan Bakar Nabati (BBN) atau Bencana Berulang dan Terus Bergantung pada Impor Bahan Bakar Minyak (BBM).

NEWS & Talks | SUARARIMBA.ID – Di tengah deru hujan yang kerap berujung banjir dan longsor, satu ironi terus berulang: Indonesia kaya hutan, tetapi miskin energi. Ketergantungan pada impor BBM seolah menjadi pilihan sadar, sementara solusi justru tumbuh diam-diam di kawasan hutan tropis yang kian menyusut. Padahal, di negeri yang membentang di garis khatulistiwa ini, alam telah menyediakan lebih dari cukup jawaban—jika negara mau mendengarkan.

Pesan itu mengemuka dalam sesi terbaru podcast Suara Dari Rimba, ketika Prof. Dr. Budi Leksono, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), membuka kembali fakta yang lama diabaikan. “Kita ini negara tropis dengan biodiversitas yang tidak dimiliki negara subtropik. Kalau potensi itu tidak dimanfaatkan secara optimal, kita termasuk golongan orang yang merugi,” ujarnya lugas. Bagi Prof. Budi, bencana ekologis yang berulang bukan sekadar musibah alam, melainkan peringatan akibat salah urus dan salah baca potensi hutan.

Reforestasi, kata dia, tak boleh berhenti pada tanam pohon seremonial. Hutan yang dipulihkan seharusnya berfungsi ganda: mencegah bencana sekaligus menopang kemandirian energi. Selama lebih dari tiga dekade menekuni riset kehutanan, Prof. Budi menyaksikan langsung bagaimana ketekunan riset mampu membebaskan Indonesia dari ketergantungan impor benih industri kehutanan. Dari ekaliptus dan akasia yang kini dimanfaatkan puluhan HTI, hingga riset nyamplung dan malapari yang ia geluti selama 17 tahun sebagai sumber Bahan Bakar Nabati (BBN).

“Kalau riset ganti komoditas tiap tahun, tidak akan pernah tuntas,” tegasnya. Pernyataan ini terasa menohok di tengah budaya proyek jangka pendek yang kerap mengorbankan konsistensi ilmiah. Padahal, nyamplung bukan sekadar tanaman energi. Ia mampu memulihkan lahan kritis, menyerap karbon, mendukung ketahanan pangan dan kesehatan, sekaligus menghasilkan energi terbarukan yang berkelanjutan.

Ironinya, potensi energi hutan ini justru lebih dulu dilirik Jepang, sementara di dalam negeri dukungan kebijakan masih setengah hati. Di sinilah letak kegentingannya. Tanpa arah nasional yang tegas, reforestasi berisiko berubah menjadi ladang pasokan bahan baku bagi kepentingan asing. Hutan tumbuh di Indonesia, tetapi nilai tambah dan kendali energi berpindah ke luar negeri.

Bagi Prof. Budi, pilihan Indonesia sebenarnya jelas: terus menjadi net oil importer yang rentan krisis, atau berani membangun ekonomi hijau berbasis hutan. “Ke depan, kita tidak boleh hanya bicara BBM dari fosil. Kita harus menjadi eksportir BBN,” ujarnya. Sebuah visi yang menempatkan reforestasi bukan sebagai beban, melainkan strategi penyelamatan ekologis dan kedaulatan energi.

Di tengah keruntuhan industri kehutanan dan krisis iklim yang makin nyata, hutan kembali mengetuk kesadaran bangsa. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah reforestasi penting, melainkan apakah negara masih mau belajar dari alam—atau terus membayar mahal akibat mengabaikannya. | tim editor

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini