SUARARIMBA.ID | Bogor – Desember selalu datang bersama hujan. Di Bogor, kota yang akrab dengan limpahan air, Desember bukan sekadar penanda akhir tahun, melainkan pengingat rapuhnya relasi manusia dan alam.
Karena itu, Bulan Menanam Pohon Indonesia tahun ini tak dibiarkan lewat begitu saja. Dari rimba hingga balai kota, suara kepedulian disatukan dalam satu aksi: menanam pohon untuk mencegah bencana.
Kamis, 18 Desember 2025, di sebuah area hijau bakal kompleks perkantoran Pemerintah Kota Bogor di Kawasan Katulampa akan menjadi saksi. Anak-anak muda Gen-Z, para pegiat lingkungan, rimbawan senior, hingga kepala daerah akan berdiri di tanah yang sama, menanam bibit yang sama, dengan harapan yang sama.
Aksi tanam pohon ini digagas Forest for Life Indonesia (FFLI) berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Bogor dan Mulasara Buwana. Chaerani Agustin, volunteer FFLI, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni.
“Kita semua juga peduli untuk menjaga lingkungan hidup ini dari banjir, longsor, maupun bencana-bencana yang akan datang,” ujarnya.
Perempuan aktifis muda yang akrab disapa Rani itu melihat ancaman ekologis kian nyata. Curah hujan ekstrem, alih fungsi lahan, dan menurunnya daya dukung lingkungan menjadikan pohon sebagai benteng terakhir yang tak boleh diabaikan. Karena itu, keterlibatan lintas generasi menjadi kunci.
Tak hanya digerakkan oleh semangat anak muda, aksi ini juga mendapat dukungan moral dan intelektual dari rimbawan senior nasional. Nama-nama seperti Dr. MS Kaban, Dr. Hadi S. Pasaribu, dan Dr. Agus Djoko Ismanto disebut turut memberi perhatian serius pada gerakan ini. Bagi mereka, menanam pohon adalah investasi jangka panjang yang dampaknya melampaui masa jabatan dan generasi.
Yang lebih kuat lagi, Wali Kota Bogor Deddi Rahiem dipastikan akan turun langsung memimpin aksi tanam pohon tersebut. Kehadiran orang nomor satu di Kota Hujan itu menjadi penanda penting: isu lingkungan bukan hanya urusan aktivis, melainkan tanggung jawab pemerintah dan warga secara bersama-sama.
Sebagai admin officer suararimba.id, Rani menjelaskan lokasi penanaman dipilih secara strategis—area hijau yang kelak menjadi bagian dari pusat pemerintahan kota. Ruang ini diharapkan tak sekadar menjadi lanskap pembangunan, tetapi juga simbol komitmen ekologis Bogor ke depan.
Bagi Gen-Z yang terlibat, aksi ini adalah ruang belajar paling nyata. Mereka tak hanya mendengar istilah perubahan iklim atau mitigasi bencana, tetapi menyentuh tanah, menanam bibit, dan memahami bahwa satu pohon hari ini bisa menjadi penyelamat di masa depan.
“Yuk kita siapkan diri kita bersama. Terima kasih,” tutup Rani.
Di Bulan Menanam Pohon Indonesia, Bogor kembali menyemai harapan. Dari rimbawan senior, wali kota, hingga anak-anak muda, suara dari rimba kini menjelma menjadi gerakan bersama. | editor





