MENYUSURI LEMBAH PURBA: Pesona Hutan Asli di Kaki Gunung Gede Pangrango

0
29

NEWS & TALKS | surarimba.id – Kaki Gunung Gede Pangrango pagi itu diselimuti udara sejuk dan aroma hutan yang khas. Tim Suara dari Rimba menyusuri kawasan hutan yang masih terjaga di wilayah Sukabumi Selatan, Jawa Barat. Perjalanan ini bukan sekadar liputan wisata, melainkan upaya melihat dari dekat bagaimana hutan dapat dimanfaatkan tanpa harus dirusak.

Hutan di kawasan ini menunjukkan wajah aslinya. Pepohonan besar berdiri rapat, aliran sungai mengalir jernih, dan suara alam terdengar dominan. Dari sinilah jasa lingkungan hutan bekerja. Air bersih, udara segar, hingga perlindungan dari bencana alam tidak hanya dirasakan masyarakat sekitar, tetapi juga mengalir manfaatnya ke wilayah perkotaan. “Hutan yang sehat membuat masyarakat aman,” menjadi pesan yang berulang disampaikan sepanjang perjalanan.

Salah satu titik perhatian adalah Jembatan Gantung Lembah Purba. Jembatan sepanjang 535 meter ini membentang di atas jurang dengan ketinggian lebih dari 100 meter. Dibangun sejak 2002, jembatan ini kini dikenal sebagai salah satu jembatan gantung terpanjang di Asia Tenggara. Dari atas jembatan, pengunjung dapat melihat hamparan hutan sekunder yang masih alami, sekaligus mendengar aliran sungai yang mengalir di bawahnya.

Menurut pengelola kawasan, pembangunan jembatan dilakukan dengan prinsip minim gangguan terhadap alam. Jembatan ini menjadi sarana untuk menikmati lanskap hutan tanpa harus membuka jalan lebar atau merusak vegetasi. Di ujung lintasan, pengunjung akan menemukan air terjun Lembah Purba dan Curug Sawer, yang alirannya berasal dari pertemuan sungai Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Air yang jernih menjadi indikator lingkungan yang masih sehat.

Kawasan wisata Lembah Purba juga telah masuk dalam wilayah Cagar Biosfer UNESCO. Status ini menegaskan bahwa pengelolaan kawasan dilakukan dengan pendekatan keseimbangan antara konservasi dan pemanfaatan. Wisata alam, dalam konteks ini, ditempatkan sebagai bagian dari jasa lingkungan hutan, bukan eksploitasi sumber daya kayu.

Beragam aktivitas ditawarkan, mulai dari ekspedisi Lembah Purba menyusuri hutan dan sungai, jembatan-jembatan lintasan alam, hingga wahana keranjang langit dan keranjang sultan yang memacu adrenalin. Namun inti dari semua kegiatan itu tetap sama: menikmati alam tanpa mengubah wajahnya. Jalur-jalur wisata dirancang mengikuti bentang alam yang ada, bukan sebaliknya.

Di tengah perjalanan, muncul refleksi penting tentang nilai hutan. Manfaat kayu hanyalah sebagian kecil dari potensi hutan. Sebagian besar nilai hutan justru terletak pada jasa lingkungan yang menopang kehidupan banyak orang. Ketika air menjadi keruh, itu tanda alam sedang “sakit”. Sayangnya, alam tidak bisa berbicara. Manusialah yang seharusnya menjadi wakilnya, menjaga dan mengelola dengan akal sehat.

Liputan ini menutup perjalanan dengan satu kesimpulan sederhana namun kuat. Hutan bukan penghambat pembangunan. Justru sebaliknya, hutan yang lestari adalah fondasi keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan manusia. Dari Lembah Purba, pesan itu terasa nyata: menjaga hutan berarti menjaga kehidupan. | Tim Adventure Talks

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini