Di sini, kehutanan bukan sekadar cerita tentang pohon dan satwa. Ia menyentuh politik hijau, ekonomi karbon, konflik lahan, hingga masa depan peradaban yang berpihak—atau abai—pada alam. Tema besar itulah yang diangkat dalam podcast Suara dari Rimba persembahan Forest for Life Indonesia, sebuah kanal yang secara konsisten membedah isu kehutanan Indonesia dari hulu hingga hilir.
NEWS & TALKS | SUARARIMBA.ID – Episode kali ini mengangkat topik krusial: runtuhnya industri kehutanan Indonesia. Sebuah sektor yang pernah menjadi tulang punggung ekonomi nasional, kini dicap sebagai sunset industry—industri senja yang cahayanya meredup dan dianggap tak lagi relevan.
Host Mas Adjie menghadirkan tiga narasumber kunci: Prof. Dr. Muhammad Naim, Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM dan pakar silvikultur; Ir. Nana Suparna, praktisi kehutanan yang pernah sukses mengelola hutan alam lestari; serta Dr. David, akademisi sekaligus pelaku industri kehutanan. Diskusi pun mengalir tajam, menelusuri akar persoalan hingga peluang kebangkitan.
Silvikultur dan Awal Masalah
Prof. Naim menjelaskan bahwa silvikultur—budidaya hutan—adalah fondasi pengelolaan kehutanan yang produktif dan lestari. Sejak era Orde Baru, kebijakan tebang pilih (TPI), lalu tebang pilih tanam Indonesia (TPTI), diterapkan untuk menata eksploitasi hutan alam. Namun praktik di lapangan kerap menyimpang dari kaidah ilmiah.
“Banyak kebijakan lahir tanpa basis ilmu kehutanan yang kuat. Akademisi belum dilibatkan secara optimal,” ujar Prof. Naim. Akibatnya, hutan ditebang tanpa perencanaan jangka panjang yang serius, sementara reboisasi sering hanya menjadi jargon.
Perkembangan teknologi silvikultur intensif (SILIN) kemudian menawarkan harapan. Dengan membuka hanya sekitar 15 persen kawasan hutan, teknologi ini mampu meningkatkan produktivitas kayu sekaligus menjaga fungsi ekologis. Namun, teknologi ini tak pernah diadopsi secara masif oleh negara.
Dana Ada, Tapi Tak Kembali ke Hutan
Ir. Nana Suparna mengungkap persoalan krusial lain: dana jaminan reboisasi. Dana yang dipungut dari setiap meter kubik kayu tebangan seharusnya menjadi “tabungan” untuk membangun kembali hutan alam. Faktanya, dana itu tak pernah kembali ke sektor kehutanan.
“Kami sudah menabung sejak awal. Tapi dananya tidak digunakan untuk membangun hutan. Sekarang jumlahnya bahkan bisa mencapai 10–14 dolar per meter kubik,” tegas Nana. Tanpa dukungan pembiayaan jangka panjang, mustahil membangun hutan alam yang daur produksinya bisa mencapai 25 tahun.
Sunset Industry atau Disinformasi?
Dr. David menantang narasi bahwa kehutanan adalah industri senja. Data global justru menunjukkan pasar produk kayu dunia terus tumbuh. Negara-negara seperti Kanada dan Jerman mencatat ekspor kayu puluhan miliar dolar per tahun.
“Indonesia punya keunggulan komparatif luar biasa—curah hujan tinggi, pertumbuhan pohon cepat. Tapi kita gagal mengubahnya menjadi keunggulan kompetitif,” jelasnya. Kebijakan larangan ekspor kayu bulat, industri yang tak direvitalisasi, serta membanjirnya kayu ilegal dan hasil konversi lahan murah telah merusak daya saing industri legal.
Ironisnya, pemerintah dinilai belum tegas. Proyek-proyek negara pun belum sepenuhnya diwajibkan menggunakan kayu legal, sehingga negara justru ikut menjadi konsumen produk ilegal.
Teknologi Ada, Pasar Ada, Politiknya Tertinggal
Para narasumber sepakat: teknologi untuk meningkatkan produktivitas hutan tersedia. Riset pemuliaan pohon mampu melipatgandakan hasil kayu per hektar dengan luasan lebih kecil. Artinya, tekanan terhadap hutan alam bisa dikurangi, sementara kesejahteraan masyarakat meningkat.
Masalahnya terletak pada kebijakan dan kemauan politik. “Yang baik harus diberi insentif, yang merusak diberi sanksi. Jangan dibalik,” tegas Nana. Tanpa profesionalisme, kejujuran, dan penegakan hukum, kehutanan akan terus menjadi kambing hitam setiap bencana datang.
Masih Ada Jalan Pulang
Diskusi Suara dari Rimba menyimpulkan satu hal penting: industri kehutanan Indonesia belum mati. Ia tersungkur oleh disinformasi, kebijakan salah arah, dan pembiaran praktik ilegal. Namun dengan keberanian mengoreksi kebijakan, mengembalikan dana kehutanan ke fungsinya, memanfaatkan teknologi, dan melibatkan masyarakat, sektor ini masih bisa bangkit.
“Kita punya potensi menjadi pemenang global. Pertanyaannya tinggal satu: mau bangkit, atau terus memilih jadi pecundang?” tutup Dr. David. | editor



