AKSI TANAM KAYU PUTIH : Selamatkan Ekologi Bangkitkan Ekonomi Rakyat

0
17

News & Adventure Talks | suararimba.id – Yogya, Pagi belum sepenuhnya hangat ketika Mas Adjie dan kru Bincang Petualangan Seputar Hutan tiba di Dlingo, Kabupaten Bantul, dan mulai menapaki perbukitan berbatu. Tanah di kawasan ini tak lagi ramah. Retak dan kering saat kemarau, terancam banjir dan longsor saat hujan lebat. Bertahun-tahun tempat ini disebut sebagai lahan kritis.

Namun pagi itu, Ahad (21/12-2025) tangan-tangan petani bersama para aktifis konservasi menggenggam bibit kayu putih—tanda kecil dari harapan yang sedang ditanam.

Kayu putih (Melaleuca cajuputi) bukan tanaman asing bagi masyarakat. Ia tanaman asli Indonesia, tumbuh tangguh, berakar kuat, dan mampu bertahan di tanah yang sulit.

Di lahan inilah, Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia (MKTI) bersama Toyota Boshoku Corporation Group asal Jepang memulai kolaborasi pemulihan lingkungan berbasis rakyat.

“Semoga cepat tumbuh besar, banyak gunanya, dan bisa menjaga lingkungan,” ujar Mas Adjie sambil menepuk tanah di sekitar bibit yang baru ditanamnya.

Bagi warga Dlingo, menanam kayu putih bukan sekadar menanam pohon. Ini adalah upaya menghidupkan kembali tanah yang selama ini hanya dikenal sebagai sumber erosi dan kekeringan. Akar kayu putih membantu menahan tanah, daunnya kelak menjadi bahan baku minyak kayu putih—komoditas tradisional yang telah lama menjadi penyangga ekonomi rakyat.

Kegiatan ini secara resmi ditandai dengan pembukaan papan peresmian oleh perwakilan Toyota Boshoku Corporation Group dan MKTI. Sebuah simbol sederhana, namun bermakna besar: kolaborasi global bertemu dengan kearifan lokal.

Nagaya, perwakilan Toyota Boshoku dari Divisi Perlindungan Total, menyampaikan bahwa proyek ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk berkontribusi secara nyata bagi masyarakat dan lingkungan.

“Kami memiliki rencana menanam pohon di seluruh dunia hingga 2050. Di sini, kami melihat kontribusi itu bisa langsung dirasakan masyarakat—bukan hanya untuk lingkungan, tapi juga ekonomi lokal,” ujarnya.

Berbeda dengan program tanam yang hanya mengejar angka, proyek ini dirancang agar berkelanjutan. Kayu putih tidak hanya berfungsi ekologis sebagai tanaman konservasi, tetapi juga memiliki nilai ekonomi melalui produksi minyak. Hasilnya kelak dapat dikelola masyarakat, memperkuat ekonomi desa tanpa merusak alam.

“Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga pemulihan dan penghidupan,” kata Nagaya.

Bagi MKTI, pendekatan ini penting agar konservasi tidak berhenti pada slogan. “Kalau petani merasakan manfaatnya, maka mereka akan menjaga tanamannya. Di situlah konservasi benar-benar hidup,” ujar seorang aktifis MKTI.

Di perbukitan Dlingo, bibit-bibit kayu putih kini berdiri rapuh diterpa angin. Tapi di balik batang kecil itu, tersimpan harapan besar: tanah yang kembali subur, petani yang kembali berdaya, dan minyak kayu putih rakyat yang mengalir dari kerja sama lintas bangsa—dari desa, untuk bumi. |

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini